Jumat, 19 Mei 2017

Pernahkah Mempermalukan Orang Lain?

Assalamu'alaikuum.. Hai semuaaaa apa kabar? Baik-kah? Apa lagi kurang baik karena galau? Ehehe

Langsung aja ya, bismillaah

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

َاْلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ َاْلإِيْمَانُ.

“Iman memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan Laa ilaaha illallooh, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman.

إِنَّ لِكُلِّ دِيْنٍ خُلُقًا وَخَلُقُ اْلإِسْلاَمِ الْـحَيَاءُ.

“Sesungguhnya setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu".

Imam al-Qurthubi rahimahullâh berkata, “Malu yang dibenarkan adalah malu yang dijadikan Allah Azza wa Jalla sebagai bagian dari keimanan dan perintah-Nya, bukan yang berasal dari gharîzah (tabiat). Akan tetapi, tabiat akan membantu terciptanya sifat malu yang usahakan (muktasab), sehingga menjadi tabiat itu sendiri. Nabi n memiliki dua jenis malu ini, akan tetapi sifat tabiat beliau lebih malu daripada gadis yang dipingit, sedang yang muktasab (yang diperoleh) berada pada puncak tertinggi.

Laluuu bagaimana dengan mempermalukan orang lain?

pernahkah mempermalukan orang lain

Mempermalukan orang lain alias bikin orang lain malu, udah jelas itu gak baik. Mempermalukan orang lain, sama aja bikin martabatnya jatuh, membuat orang lain tidak suka dengan perlakuan kita dan membuat kita sendiri buruk di mata orang lain karena sikap buruk kita.

Membuat orang lain malu entah itu lewat sindiran, hinaan, atau apapun yang bikin orang lain malu hingga tersinggung bisa menimbulkan rusaknya tali persaudaraan. Bukankah begitu?

Dengan membuat orang lain tersinggung saja, bisa memicu sakit hati, apalagi dengan "mempermalukan" yang bisa berujung pada dendam dan permusuhan.

Baca juga : Lihat Kekurangan Sendiri Sebelum Melihat Kekurangan Yang Lain

Bicara soal menghina orang lain, rasanya itu terlalu jahat apalagi menghina soal fisik. Menghina fisik orang yang menurut kita tidak sempurna, sama aja menghina penciptaNya. Ye kan?

Kalo emang niatnya sekedar bercanda, apa harus ya tertawa lucu karena kekurangan orang lain dan bikin orang lain merasa malu karena sudah dipermalukan lewat candaan kita? Kecuali kalo emang isi bercanda kita bisa diterima dan tidak menyinggung perasaannya.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَومٌ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْراً مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاء مِّن نِّسَاء عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْراً مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mencela kumpulan yang lain, boleh jadi yang dicela itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan mencela kumpulan lainnya, boleh jadi yang dicela itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim “ (QS. Al Hujuraat :11)

Sebagaimana sabda Nabi saw :

أَللَّئِيْمُ يَفْضَحُ وَالكَرِيْمُ يَصْلُحُ

Orang yang mempermalukan orang lain adalah orang yang hanya bisa mencela atau menyalahkan, sedangkan orang yang bermartabat dan terhormat adalah orang yang mau memperbaiki kesalahan orang lain ( HR. Bukhori Muslim )

Wasiat yang diberikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Jabir bin Sulaim,

 وَإِنِ امْرُؤٌ شَتَمَكَ وَعَيَّرَكَ بِمَا يَعْلَمُ فِيكَ فَلاَ تُعَيِّرْهُ بِمَا تَعْلَمُ فِيهِ فَإِنَّمَا وَبَالُ ذَلِكَ عَلَيْهِ

“Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” (HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Baca juga : Tidak Membalas Karena Tahu Ada Yang Maha Membalas

Jadi ada baiknya kalo kita bicara, pikirin dulu itu ucapan bikin orang lain malu (dalam artian tersinggung) apa nggak.. kalo emang gak ada niat mempermalukan berarti tinggal si positive thinking yang mesti dipegang.

Ah kalian yang baca pasti lebih paham, aku disini cuma sekedar mengingatkan. Semoga bermanfaat ya.. Wassalam ^^

Jumat, 14 April 2017

Dasar Muna !

Sebelumnya, kalian udah pasti ngerti kan apa singkatan dari "muna" diatas? Ya, munafik. Yang jelas, munafik itu sifat madmumah yang di jaman sekarang banyak disalah artikan.

Contoh! :

X : Kamu suka sama si Z yah?
Y : Kata siapa?
X : Ayolah.. ngaku aja, gak usah "muna"

????????? Masa iya minta si X ngaku, mesti pake kata "gak usah muna"

Melihat di kehidupan nyata, sebagian orang memang sudah tidak canggung lagi untuk mengeluarkan kata "muna" atau "munafik". Bahkan karena hal yang bukan ciri dari munafikpun disebut munafik. Maka dari itu, nuduh orang lain munafik itu ada hukumnya. Hukumnya ya pasti dosa. Bahkan bisa jadi orang yang mengatakan orang lain munafik padahal tidak, dirinyalah yang termasuk orang munafik.


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاث إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَ إِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَ إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ
“Tanda orang munafik itu tiga apabila ia berucap berdusta, jika membuat janji mengingkari, dan jika dipercayai mengkhianati” (HR Al-Bukhari)
Tapi, tapi... akan lebih bijaksana lagi jikalau kita juga tidak cepat menyimpulkan dari 3 ciri orang diatas sebagai orang munafik. Misalnya, si A udah janji mau pergi bareng B, padahal dia udah punya janji sebelumnya sama si C. Namanya juga lupa kan? Masa sampe benci karena lupa? Padahal kan manusia udah kodratnya, gak luput dari salah dan khilaf (lupa). Jadi, alangkah indahnyaaa untuk berpositif thinking yang bisa bikin kita awet muda ^^ hihi :D
Dari Abu Zar ra, ia mendengar Nabi saw bersabda, “Seorang pria yang menuduh pria lain jahat, atau menuduhnya kafir, maka tuduhan itu berbalik kepadanya, jika orang yang dituduhkannya itu tidak seperti itu.”
Dari Abu Hurairah ra katanya Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang berkata, ‘Celakalah mereka!’ maka orang itulah yang paling celaka.
Bisa ditarik kesimpulan, bahwa memang MUNAFIK itu ternyata memiliki ciri yang lebih spesifik. Aku udah beberapa kali mencantumkan di beberapa postingan aku sebelumnya, bahwa memang penilai yang paling akurat ya Alloh, yang nyiptain kita.

Dan kita yang punya senjata paling tajam (lidah) mesti lebih berhati-hati dalam berkata, kaya nyinggung perasaan orang lain, menghina, apalagi sampe ngeluarin kata MUNAFIK.

Udah sih jelasinnya segitu aja. Aku cuma gak mau kalian apalagi aku dengan mudahnya bilang orang lain "munafik". Bukannya ngerasa alim, paling bener, apalagi paling suci. Aku juga sadar aku pasti punya salah. Cuma terpikir saja "apa salahnya untuk mengingatkan?" :)

Kamis, 30 Maret 2017

Merasa Mulia Tapi Malah Menjadi Hina


Nabi Muhammad SAW sebagai Rosul kita, orang yang dijamin bakalan masuk surga, gak pernah sedikitpun ngerasa paling suci ataupun ngerasa mulia karena kebaikannya yang gak keitung. Apakah kita pernah merasa mulia karena secuil kebaikan kita? Astaghfirulloohal adziim :')

Di postingan ini, ada beberapa firman Alloh dan sabda Rosulloh sebagai pengingat kita buat gak berbangga diri dengan kebaikan yang udah kita perbuat.

Allah Ta’ala berfirman : 
هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى
“Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm: 32).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :
لاَ تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمُ اللَّهُ أَعْلَمُ بِأَهْلِ الْبِرِّ مِنْكُمْ
“Janganlah menyatakan diri kalian suci. Sesungguhnya Allah yang lebih tahu manakah yang baik di antara kalian.” (HR. Muslim).
Melihat contoh Abu Bakr, ia malah berdoa ketika dipuji oleh orang lain.
اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ 
Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka] (Diriwayatkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)
Imam Ibnu Hazm rahimahullah berkata, “Barangsiapa diberikan musibah berupa sikap berbangga diri, maka pikirkanlah aib dirinya sendiri. Jika semua aibnya tidak terlihat sehingga ia menyangka tidak memiliki aib sama sekali dan merasa suci, maka ketahuilah sesungguhnya musibah dirinya tersebut akan menimpa dirinya selamanya. Sesungguhnya ia adalah orang yang paling lemah, paling lengkap kekurangannya dan paling besar kecacatannya.”
Dalam Shaid Al-Khatir, Ibnu Jauzi mengungkapkan bahwa "lebih baik engkau berbuat maksiat lalu kau menyesal karenanya, ketimbang kau berbuat kebaikan, lalu kau menjadi sombong karenanya". 
Nah gimana? Jelas? Jangan males buat ngingetin orang2 yang kita sayang ya ^^

NB : ngingetin dalam hal baik, termasuk tidak merasa mulia karena telah berlaku baik.

Senin, 27 Maret 2017

Hukum Penyebar Berita Palsu


Sering denger berita heboh? Langsung percaya apa nggak? Jujur, aku pribadi sering langsung percaya sama berita yang belum jelas dengan kenyataannya dan ternyata aku tahu itu FATAL setelah membaca firman Alloh berikut.
Allah SWT berfirman,
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [Al Hujurat : 6]

Sesuatu yang belum jelas tanpa bukti memang tidak pantas untuk dipercayai. Dan aku nyesel pernah mempercayai kabar yang baru "KATANYA". Kalo jaman sekarang namanya HOAX kan? Ah sudahlah, penyesalan memang selalu datang terlambat. Yang jelas, kita sekarang sama-sama buat nggak mudah terpengaruh apalagi gampang percaya sama berita yang belum jelas kebenarannya.

Berita palsu itu sendiri menurutku berita yang dibuat-buat atau dimodifikasi sedemikian rupa biar terlihat heboh. Kita hidup di dunia pasti ada orang yang suka dan orang yang gak suka sama kita. Secara logika, orang yang suka kita mana mungkin nyebarin berita palsu apalagi isi berita itu tentang kejelekan kita. Jadi, orang yang nyebarin berita palsu tentang kejelekan kita itu, orang yang gak suka sama kita? STOP NEGATIVE THINKING! Karena itu juga belum tentu adanya.

إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar. (Q.S An-Nur : 11)

Maksud dari artian diatas tentunya golongan kita ya manusia. Dan orang-orang yang nyebarin berita palsu selain mendapat penyesalan, juga mendapat adzab yang besar. Karna mungkin nyebarin berita palsu termasuk fitnah kali ya? Wallohu a'lam..


Jumat, 24 Maret 2017

Positive thinking VS Negative Thinking

Hay semuaaa pada sehat kan? Syukurlah kalo pada sehat, yang kurang sehat semoga lekas sembuh hehe. Kali ini aku mau bahas soal "Thinking". Kita manusia terlahir dengan adanya akal dan pikiran. Jika ingin menjadi manusia yang baik, ya tentu cara berpikir kita juga mesti baik. Bener gak? Menurutku sih yes.

Aku pernah liat di TV ada cewek luar negri yang umurnya udah 50 tahunan tapi cantiknya subhanalloooh masih keliatan kaya umur 20-an. Tau gak rahasianya apa? Dia bilang dia selalu berpikiran positif pada siapapun dan pada hal apapun.

Wah wah wah, awesome! jadi pwengen! Selain hubungan persaudaraan tetap baik, positive thinking juga bisa bikin kita terbebas dari penyakit hati. Tau sendiri lah efek penyakit hati gimana, bikin amalan terkuras. Kalo soal negative thinking gimana?


Oke, negative thinking = berpikiran negatif/buruk. Kalo pikiran terus aja buruk, otomatis ke tingkah laku kita juga pasti jadi buruk. Apa yang kita pikir buruk belum tentu kenyataan juga buruk.  Udah dapet dosa, nyesel karna berpikir buruk, hubungan persaudaraan pun jadi buruk.

Jadi sekarang tau kan mana yang mesti kita pilih? Aku yang berlumur dosa sih milih yang positive thinking. Negative thinking yang udah pernah kita alamin, kita buang dari kebiasaan kita. Yuk sama-sama ber positive thinking ^_^
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu pernah menyampaikan sebuah hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang berbunyi: 
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ، وَلاَ تَحَسَّسُوْا، وَلاَ تَجَسَّسُوْا، وَلاَ تَنَافَسُوْا، وَلاَ تَحَاسَدُوْا، وَلاَ تَبَاغَضُوْا، وَلاَ تَدَابَرُوْا، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهَ إِخْوَانًا كَمَا أَمَرَكُمْ، الْمُسْلِمُ أَخُوْ الْمُسْلِمِ، لاَ يَظْلِمُهُ، وَلاَ يَخْذُلُهُ، وَلاَ يَحْقِرُهُ، التَّقْوَى هَهُنَا، التَّقْوَى ههُنَا -يُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ- بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ، إِنَّ اللهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ، وَلاَ إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ 
“Hati-hati kalian dari persangkaan yang buruk (zhan) karena zhan itu adalah ucapan yang paling dusta. Janganlah kalian mendengarkan ucapan orang lain dalam keadaan mereka tidak suka. Janganlah kalian mencari-cari aurat/cacat/cela orang lain. Jangan kalian berlomba-lomba untuk menguasai sesuatu. Janganlah kalian saling hasad, saling benci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana yang Dia perintahkan.
Bakar bin Abdullah Al-Muzani yang biografinya bisa kita dapatkan dalam kitab Tahdzib At-Tahdzib berkata: "Hati-hatilah kalian terhadap perkataan yang sekalipun benar kalian tidak diberi pahala, namun apabila kalian salah kalian berdosa. Perkataan tersebut adalah berprasangka buruk terhadap saudaramu".
Abu Hatim bin Hibban Al-Busti bekata dalam kitab Raudhah Al-'Uqala (hal.131), "Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya".
# Tajassus adalah mencari-cari kesalahan orang lain dengan cara menyelidiki atau memata-matai dan termasuk cabang dari kemunafikan.

Kamis, 09 Maret 2017

About Knowing Every Particular Object

Judulnya keren kan? Haha itu singkatan dari KEPO wkwk. Kalo diminta jawaban satu-satu tetep aja inti dari kepo itu pengen tau seeedetail-detailnya. Tapi sebagian orang nganggap orang lain yang pengen tau dalam hal wajarpun dibilang kepo. Kalo keponya dalam hal agama, ilmu pengetahuan, atau hal baik lainnya it's no problem. Yang jelas jangan kepo sama urusan orang lain. Setuju gak? So this is just remember for me and anyone ^^

Orang yang kepo biasanya terlihat bahwa dia mengetahui berbagai informasi yang nyatana dia tidak tahu banyak, makanya dia kepo. Kepo bisa terjadi karena berbagai alasan. Dan yang paling berbahaya, kepo karna iri.

Baca juga :  Lihat Kekurangan Sendiri Sebelum Menilai Kekurangan Yang Lain

Berdasarkan wikipedia iri itu..
Iri hati (bahasa Inggris: envy, bahasa Latin: invidia), terkadang disebut juga dengki atau hasad, adalah suatu emosi yang timbul ketika seseorang yang tidak memiliki suatu keunggulan—baik prestasi, kekuasaan, atau lainnya—menginginkan yang tidak dimilikinya itu, atau mengharapkan orang lain yang memilikinya agar kehilangannya
Misalkan si A iri sama si B, akhirnya si A kepo biar tau apa aja yang B punya biar si A nggak kalah punya dari si B. Jadi ngerti kan maksud ami?

Dikutip dari pemilik akun gideonidea :
PERHATIKAN: Orang yang KEPO-in kamu tdk pernah lebih hebat dari dirimu. Jika dia lebih hebat darimu, pasti tdk ada waktu utk KEPO!
NB : Kepo tidak berlaku bagi orang tua, suami, atau keluarga terdekat karena mereka memiliki hak untuk mengetahui urusan kita.

Sabtu, 04 Maret 2017

Tidak Membalas Karena Tahu Ada Yang Maha Membalas

Sebelumnya, mohon maaf kalo ada pihak yang tersinggung. Aku tulis postingan ini cuma buat sharing biar kita bisa sama-sama ngingetin diri kita sendiri dan orang-orang yang kita sayang.
Kejahatan dibalas kejahatan = sama-sama jahat
Kebaikan dibalas kejahatan = gatau diri
Kebaikan dibalas kebaikan = balas budi
Kejahatan dibalas kebaikan ? Amazing! Awesome!
* Kejahatan yang aku maksud disini, kejahatan lisan (kata-kata yang nyakitin, pedes, fitnah, dsb)


Ucapan yang gak dijaga (tanpa mikir dulu, itu ucapan nyakitin orang lain/ngga) itu bisa jadi kebiasaan karena gak ada orang lain yang ngasih tau kalo sikapnya itu emang salah. Atau... bisa juga karena emang orang itu BATU, alias nggak mau terima nasehat baik dari orang lain. Dan biasanya, malah bilang kalo orang yang ngasih tau itu So' ALIM!

Kalo soal ngomongin orang lain.. ngomonginnya yang baik2 ya gak bakal dosa. Ngomongin keburukan orang lain yang bikin dosa. Secara aib orang lain dibuka dan disebarin lagi dari orang ke orang. Sadar gak kalo buka aib orang lain, aib kita juga bakalan dibuka abis2an sama Alloh? :'(

Jadi gini ya, bukannya aku ngerasa orang yang paling bener, aku juga mungkin pasti punya salah. Manusia kan gak luput dari salah dan khilaf. Kita saling maafin ya biar dosa itu gak kebawa sampe akhirat :') Kalo ada yang jahat sama kita, biar Alloh aja yang bales :')
Ibnu ‘Abbas mengatakan: ‘Allah memerintahkan orang beriman untuk bersabar di kala marah, bermurah hati ketika diremehkan, dan memaafkan di saat diperlakukan jelek. Bila mereka melakukan ini maka Allah  menjaga mereka dari (tipu daya) setan dan musuh pun tunduk kepadanya sehingga menjadi teman yang dekat.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 4/109)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا

“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara”